Si Ajun mengucapkan selamat datang kepada siapa saja yang sudah mampir ke blog ini, yang mengulas berita dan informasi seputar Facebook!

Jika ingin mengisi buku tamu, klik ini : Buku Tamu
gravatar
  • Si Ajun
  • Associated Press Megap-megap Digempur Facebook

    Hanya media cetak yang paling terkena dampak era yang semakin digital sekarang ini. Salah besar jika ada yang beranggapan demikian. Perusahaan news wire yang bekerja secara online semacam Associated Press (AP) yang sudah
    kelas dunia saja juga megap-megap menghadapi gempuran situs pertemanan dan blog.

    n World Media Summit 2009
    SEPERTI diakui Presiden AP Thomas Curley, pihaknya tarkaget-kaget ketika dua jejaring sosial paling populer saat ini, Facebook dan Twitter, sering kali mengalahkan mereka dalam hal kecepatan melansir berita.

    “Sejak Facebook dan Twitter marak, kerap terjadi ketika sebuah peristiwa meletus dan kami belum lagi melakukan reportase, beritanya sudah muncul di situs pertemanan,” terang Curley saat jadi pembicara di pembukaan World Media Summit (WMS) di Beijing, Jumat (9/10) kemarin yang juga dihadiri Chairman Jawa Pos Group, Dahlan Iskan.

    Awalnya, lanjut Curley, seperti umumnya perusahaan besar, AP juga menganggap remeh fenomena itu dan enggan beradaptasi. Tapi, kantor berita yang berbasis di Amerika Serikat itu akhirnya sadar, bisnis mereka bisa tergerogoti jika tak berusaha merangkul teknologi yang berkembang.

    “Kami sadar kalau kantor berita sekarang ini tak bisa lagi hanya bermisi memuaskan customer bisnis. Kami juga harus bekerja sama dengan mereka agar bisa memberi yang terbaik kepada pemakai akhir jasa kami, yaitu pembaca berita,” kata Curley.

    Maka, dimulai pada hearing Sonia Sotomayor di Kongres sebelum diangkat sebagai hakim agung pada Juli lalu, AP mulai memperkenalkan apa yang disebut sebagai AP news blog. Dengan konsep ini, AP mengajak Yahoo dan Twitter bekerja sama. Yahoo untuk menyebarkan berita, Twitter sebagai sarana menyalurkan komentar pembaca.

    “Hasilnya” Arus lalu lintas berita tentang Sotomayor di Yahoo melonjak 20 persen dibandingkan ketika mereka menyebarkan berita kami lainnya. Traffic di Twitter juga naik 27 persen, sedangkan blog berita AP juga diakses tiga kali lebih banyak dibandingkan biasanya,” terang Curley.

    Senada dengan Curley, bos konglomerasi media News Corporation Rupert Murdoch juga menyarankan semua jenis media untuk “adapt dan adopt.” Dia memberi contoh koran Wall Street Journal yang berinovasi dengan meluncurkan edisi koran digital. Per bulan, koran digital itu mampu menggaet 25 juta audiens plus dua juta pembaca edisi bahasa Mandarin.

    “Sekarang bukan lagi era koran bersaing dengan koran, televisi melawan televisi. Batas antar berbagai jenis media kian kabur. Banyak koran besar di dunia yang kini mati karena gagal mengenali keperluan pembacanya, bukan karena serbuan teknologi baru,” kata pria kelahiran Australia itu.

    Karenanya, sambung Murdoch, kreativitas menjadi kata kunci. Sehubungan dengan ini, bos perusahaan yang usahanya mencakup bidang koran, televisi, radio, film, olahraga, buku, dan situs pertemanan itu menyentil Cina yang memang masih tinggi angka pembajakannya. “Pembajakan akan sangat menghambat perkembangan industri kreatif,” tegasnya.

    WMS yang dihadiri perwakilan lebih sekitar 130 media dan diliput tak kurang dari 300 reporter dari seluruh dunia itu akan ditutup, Sabtu (10/10) hari ini. Dari hasil diskusi kemarin yang dibagi ke dalam empat kelompok diharapkan bisa dirumuskan keputusan konkrit sesuai dengan tema kongres media ini, yakni kooperasi, aksi, saling menguntungkan, dan perkembangan.(ttg/lea/ila)

    Sumber : Harian Riau Pos, 10 Oktober 2009

    Related Posts by Categories



    print this page Print this page

    Watch favourite links