Si Ajun mengucapkan selamat datang kepada siapa saja yang sudah mampir ke blog ini, yang mengulas berita dan informasi seputar Facebook!

Jika ingin mengisi buku tamu, klik ini : Buku Tamu

Archives

gravatar
  • Si Ajun
  • Kirim Email Sampah Didenda Rp1,7 Triliun

    BERHATI-hatilah para pengguna jejaring Facebook jika mengirim pesan bersifat sampah (junk mail) di situs komunitas ini. Kemarin, pengadilan California menjatuhkan memerintahkan Sanford Wallace untuk membayar ganti rugi sebesar US$177 juta atau sekitar Rp1,77 triliun kepada Facebook karena terbukti membombardir situs ini dengan junk mail.

    Wallace memang terkenal dengan sebutan 'Spam King' lantaran sering membombardir situs dengan junk mail maupun wall posting ke dalam akun anggota Facebook tanpa izin. Tindakan ini dinilai Facebook telah merusak situsnya. "Kami menang lagi dalam peperangan melawan spammer," demikian pernyataan Facebook.

    Jeremy Fogel, hakim Pengadilan Distrik California, dalam putusannya juga melarang Wallace dan siapa pun yang terafiliasi dengan Wallace untuk mengakses Facebook. Wallace juga bersiap dipenjara karena perbuatan ini bukan pertama kali ia lakukan.

    Wallace yang bermukim di Las Vegas ini juga pernah terlibat kasus yang sama dengan perusahaan daring lainnya. Pada Mei 2008, MySpace memenangkan gugatan sebesar US$230 juta, sedangkan pada 2006, Komisi Dagang AS menjatuhkan denda US$4 juta karena mengirim iklan pop-up yang biasa dikenal spyware.

    Sementara Facebook, pada November 2008, memenangi US$873 juta melawan Adam Guerbuez dan rekan bisnisnya di Atlantis Blue Capital karena membombardir anggota Facebook dengan pesan yang mengandung pornografi. (*/OL-02)

    Sumber : www.mediaindonesia.com, Jumat, 06 November 2009
    Read More...

    gravatar
  • Si Ajun
  • Tekanan Melalui Facebook

    DUKUNGAN terhadap Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah, pimpinan nonaktif KPK yang kini mendekam dalam tahanan kepolisian, terus mengalir deras tiada henti. Dukungan itu datang dari dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia maya.

    Di dunia nyata, para tokoh nasional dengan sukarela menjaminkan diri untuk membebaskan Bibit dan Chandra. Mereka pun dengan penuh semangat turun ke jalan bergabung dengan elemen masyarakat lain untuk berunjuk rasa. Dukungan di dunia nyata tersebar dari Jakarta hingga ke berbagai daerah.

    Yang lebih fantastis terjadi di dunia maya. Dukungan untuk Bibit dan Chandra di jejaring sosial Facebook sudah menembus angka 500 ribu dari target 1 juta.

    Rata-rata 100 orang setiap menit memberikan dukungan. Inilah dukungan yang menembus batas ruang dan waktu.

    Harus diakui, dukungan yang hebat dari dunia nyata dan dunia maya itu mampu menekan Presiden. Buktinya, Presiden kemudian membentuk Tim Pencari Fakta.

    Yang perlu ditekankan ialah munculnya dukungan yang hebat melalui Facebook itu merupakan tanda bangkitnya kekuatan masyarakat sipil yang harus diperhitungkan oleh yang berkuasa karena dukungan itu bisa saja berbuah menjadi people power.

    Suka atau tidak suka, telah terjadi pembangkangan sipil.

    Facebook efektif untuk kepentingan politik. Presiden Amerika Serikat pada saat kampanye juga menggunakan Facebook. Ia mendapatkan sumbangan kampanye Rp6,9 triliun dari 3 juta pengguna internet melalui situsnya dan melalui Facebook. Perjalanan politik di Thailand juga dipengaruhi dunia maya dalam menggerakkan unjuk rasa.

    Dukungan rakyat di Facebook untuk Bibit dan Chandra adalah riil. Disebut riil karena mereka yang memberikan dukungan itu tidak pernah mengenal secara dekat dengan Bibit dan Chandra. Mereka tergerak memberikan dukungan berdasarkan bisikan hati nurani.

    Mereka terpanggil memberikan dukungan karena mereka yakin seyakin-yakinnya bahwa Bibit dan Chandra korban kriminalisasi.

    Kebangkitan rakyat seperti yang diperlihatkan di Facebook merupakan reaksi atas tersumbatnya saluran demokrasi resmi. Sekaligus reaksi terhadap kartel politik yang dipertontonkan partai politik dengan koalisi besarnya.

    Partai politik yang sejatinya alat perjuangan rakyat lebih doyan bersekutu dengan penguasa. Tidak mengherankan jika saat ini partai memilih bungkam. Sama sekali tidak bersuara atas kriminalisasi KPK.

    Anggota DPR pun tidak bisa lagi diharapkan sebagai penyalur aspirasi rakyat. Sebab 75% DPR bersatu dengan pemerintah. Yang terjadi adalah demokrasi prosedural, yang mengabaikan substansi.

    Di dunia hukum pun terjadi hegemoni prosedur, yang mengabaikan nalar dan rasa keadilan publik. Akibatnya, timbul perlawanan yang luas melalui Facebook.

    Adalah kenyataan bahwa pemerintahan baru yang belum berumur 100 hari, dengan kasus Bibit dan Chandra, telah menuai ketidakpercayaan yang luas. Karena itu, melalui forum ini kita ingatkan agar kekuasaan lebih jujur mendengarkan suara publik.

    Sumber : www.mediaindonesia.com, Rabu, 04 November 2009
    Read More...

    gravatar
  • Si Ajun
  • Hampir 500.000 Facebooker Dukung Chandra - Bibit

    JAKARTA - Dukungan Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto terus bergulir lewat Facebook. Bahkan total dukungan kini hampir mencapai angka 500.000 pendukung.

    Pantauan okezone, Senin (2/11/2009), sampai tulisan ini diturunkan anggota Facebook yang mendukung dua pimpinan KPK nonaktif itu mencapai 425,104 orang. Jika semua orang terus memberikan dukungan, dukungan ini akan menembus angka 500.000 pada malam hari nanti.

    Namun entah sengaja atau tidak, akun Gerakan 1.000.000 Pendukung Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah ini sempat disusupi oleh pendukung Polri. Salah satu anggota yang bergabung dalam gerakan di Facebook ini memiliki akun dengan nama 'Dukung POLRI', memberikan komentar untuk mendukung tindakan POLRI yang telah menahan Bibit dan Chandra demi kepentingan keadilan dan keamanan. Komen ini diposting berkali-kali.

    Gerakan sejuta dukungan ini dibuat oleh Usman Yasin, Ketua Yayasan Lembak, Bengkulu sebagai bentuk dukungannya setelah Markas Besar (Mabes) Polri resmi menahan dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nonaktif itu sejak Kamis 29 Oktober 2009.

    Selama ini Usman juga dikenal sebagai seorang dosen di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

    "Terlepas dari apakah Bersalah atau Tidak kita yang berada di luar Sistem, mungkin merasa terganggu dengan kejadian demi kejadian yang menimpa Chandra dan Bibit. Bukan tidak mungkin kasus semacam ini seperti gunung ES, sesungguhnya mungkin banyak Chandra dan Bibit yang lain yang juga mengalami nasib yang sama," tulis Usman dalam akun Facebook tersebut.

    Sejumlah Facebookers juga menuliskan komentar-komentar berupa dukungan untuk Bibit dan Chandra. (srn)

    Sumber : okezone.com, Senin, 2 November 2009
    Read More...

    gravatar
  • Si Ajun
  • Facebook, Album Foto Digital yang Diminati Anak Muda

    YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Situs jejaring sosial Facebook tak hanya diminati anak-anak muda untuk saling berkirim sapa, tetapi juga dijadikan sebagai album foto digital. Mengunggah (upload) foto di Facebook lebih praktis dan gratis ketimbang mencetak foto. Selain itu, hal ini juga lebih keren.

    Fadila (22), karyawan swasta, warga Sosrowijayan, kini jarang mencetak foto selepas bergabung dengan situs jejaring Facebook. Jika mempunyai foto bagus yang diambil dari kamera atau ponsel, maka sebagian dimasukkan ke Facebook. Sebagian lagi disimpan di laptop dan komputer.

    Hampir tiap hari Fadila menengok Facebook-nya di sela-sela mengerjakan tugas kantor. "Kalau sedang kumat narsisnya, foto apa saja yang ada gambar saya langsung saya upload. Sudah enggak kehitung berapa jumlah fotonya," ujarnya, Senin (2/11).

    Shinta Maharani (24), karyawan swasta yang tinggal di Janti, Sleman, sepekan sekali mengunggah satu atau dua foto ke Facebook. "Ya buat keren-kerenan saja. Karena FB (Facebook) memfasilitasi penggunanya untuk memiliki semacam album digital, ya saya manfaatkan saja, ketimbang cetak foto, mahal," ujar Shinta.

    Pendapat senada dilontarkan Indah (22), mahasiswi perguruan tinggi swasta. Indah sekarang hanya mencetak foto yang dirasa perlu untuk diletakkan di album, misalnya foto bersama pacarnya, foto keluarga, dan foto bersama teman-temannya yang paling berkesan.

    "Hanya sekitar 25 persen dari 200-an foto saya di FB yang saya cetak. Mau mencetak semua, mahal, karena satu foto harganya Rp 2.000 lebih. Mendingan menaruh foto di FB. Tapi khusus foto bersama pacar, saya enggak mencantumkan ke FB," kata Indah.

    Bagi pelaku usaha cetak foto, kehadiran album digital dari Facebook dan situs lain belum terlalu mengkhawatirkan. Namun, menurut Yonas Adi Kurniawan, Supervisor Manager PhotoTalk, ancaman album digital itu tetap mungkin ada.

    Sejauh ini, penurunan terhadap minat cetak foto belum nampak, mungkin karena banyak orang masih merasa mantap melihat foto sekaligus memegang ketimbang hanya bisa menatap di layar komputer. "Gambarannya mirip dengan koran yang walau ada versi online-nya, orang masih saja merasa lebih mantap jika memegang kertas koran secara langsung. Sensasinya jelas lebih dapat," ujarnya.

    Sumber : tekno.kompas.com, Senin, 2 November 2009
    Read More...

    gravatar
  • Si Ajun
  • Facebookers Desak Kapolri Dipecat

    JAKARTA - Aliran dukungan terhadap pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah semakin kencang.

    Setelah "Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto" dan dukungan lain lewat Twitter, atau forum lainnya seperti Kaskus. Kini muncul sejumlah dukungan serupa di Facebook.

    Penelusuran okezone, Minggu (1/11/2009) beberapa akun baru mulai dibentuk. Salah satunya adalah "Bebaskan Bibit Rianto & Chandra Hamzah! Pecat Bambang Hendarso Danuri!"

    Sejak didirikan grup tersebut baru menggaet sebanyak 31 anggota. Dalam keterangannya, pembuat forum menjelaskan, Forum itu adalah salah satu dari sekian banyak media dukungan terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia. "Tuntutan forum ini adalah pemberantasan korupsi secara sistemik dan hukuman bagi koruptor."

    Selain itu Forum tersebut mendesak agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk segera memberhentikan Kapolri Bambang Hendarso Danuri atas ketidakprofesionalan lembaga yang dipimpinnya.

    Forum tersebut juga menyerukan pada Polri untuk kembali ke khittah sebagai pengayom masyarakat, penegak keadilan dan pemberantas korupsi, karena selama ini polisi memiliki peran besar dalam tumbuh dan berkembangnya korupsi.
    (ugo)

    Sumber : okezone.com, Minggu, 1 November 2009
    Read More...

    Watch favourite links